Sufisme Abad 21: Kedekatan Tuhan dan Hamba

Sufism Abad 21 



Sebuah artikel lepas yang bercerita tentang pengalaman pribadi seorang penulis ulung tentang hidupnya selama dua tahun berturut-turut. Pembelajaran apa yang bisa diambil dari artikel Sufism Abad 21? 

Ya, pembelajarannya adalah hablum minallah yaknanya berupa perjanjian dari Allah, yaitu masuk Islam atau beriman dengan Islam sebagai jaminan keselamatan bagi mereka di dunia dan akherat. Atau tunduk dengan segala ritual ibadah sebagaimana yang diatur oleh syariat dalam hadist, sunnah dan Al-Qur'an. Untuk mendapatkan jaminan perlindungan hak-haknya sebagai manusia di dalam kehidupan dunia dan akhirat. ((Lihat Tafsir At-Thabari , Tafsir Al-Baghawi , dan Tafsir Ibnu Katsir tentang pengertian surat Ali Imran 112).

Sedangkan hablum minan-nas adalah hubungan sesama antar manusia. Berinteraksi dengan sesama manusia, maka jaminan yang bisa dipercaya hanyalah dari kaum muslimin yang dibimbing oleh syari'at Allah Ta'ala. 

Dengan demikian, akhlaqul karimah dibangun di atas kerangka hubungan dengan Allah melalui perjanjian yang diatur dalam Syariat-Nya berkenaan dengan kewajiban menunaikan hak-hak Allah Ta'ala dan juga kerangka hubungan dengan sesama manusia melalui kewajian menunaikan hak-hak sesama manuia baik yang muslim maupun yang kafir. 

Yakni prinsip utama yang sering diamati oleh penulis berupa menunaikan tauhidullah, menjauhi syirik, mentaati rasul-Nya, dan menjauhi bid'ah (seperti: rajin sholat tepat waktu, hafal Qur'an, rajin mendengarkan sholawat, video-video ceramah, pakaian syar'i, dzikir setiap waktu, menjaga jarak dengan lawan jenis, dan ''ritual ibadah'' sejenisnya). 

Maksudnya, bahwa kita diwajibkan untuk berpegang dengan adab-adab yang diajarkan oleh Al-Qur'an, dan segenap perintah yang ada pada-Nya dan juga segenap larangan-Nya, juga berpegang dengan apa yang dikandunginya dari kemuliaan AKHLAQ dan kebaikan perangai serta kelembutan. 

Di sini penulis menekankan bahwa, kita memang diwajibkan memegang prinsip utama hablum minallah, hablum minnan-nas, hablum minal alm. Namun, penulis akan menceritakan bahwa hablum minann-nas itu punya peran penting. Justru menurut pengalaman penulis, sesungguhnya Tuhan itu lebih menyukai ''interaksimu dengan manusia; orang tua dan orang terdekat.'' 

Interaksi dengan orang tua seperti apa? 
Banyak dan sederhana saja. Meringankan beban orang tua, contohnya: kerjakan apa yang biasa dikerjakan oleh orang tua; mencuci piring, mencuci baju, memasak, belanja, ngepel, syukur-syukur mampu mengais rizki sehingga tidak lagi membebani materi. 



Tapi, tidak semua orang bisa langsung ketemu dengan orang tua, bahkan ada yang lahir tanpa orang tua, atau ketika dia sudah beranjak besar kedua orang tuanya meninggal, bagaimana?

Penulis menjelaskan bahwa interaksi bisa kita lakukan kepada orang yang mengampu atau merawat kita sejak bayi. 

Kalau jarang pulang ke rumah, misalnya merantau apa yang bisa dilakukan?

Mudah saja. Jangan menceritakan hal-hal sedih sedikitpun kepada orang tua. Prinsipnya, jika kita tidak bisa membahagiakan orang tua berupa materi, jangan pernah membuat mereka kecewa. Caranya? Beri kabar yang baik-baik dan bahagia kepada mereka. Dan masih banyak lagi yang akan ditulis di artikel lepasnya. 

Selain interaksi dengan orang tua, kan interaksi dengan orang terdekat, ya? 

Betul. Interaksi dengan orang terdekat misalnya seperti membantu sepupu mengurus berkas pendaftaran masuk kampus, membantu kebutuhan tetangga. Maksudnya, orang terdekat di sini adalah orang yang ada di sekitar kita. Termasuk pacar? No. 

Perbedaan mukjizat yang diperoleh setelah interaksi bersama orang tua dan orang terdekat, apa?
Banyak. Hidup lebih terarah, semua serba diringankan oleh-Nya, banyak lah. Nanti dibahas di artikel. 

Semoga artikel lepas yang ditulis oleh penulis bermanfaat dan membantu. 

Mohon kritik dan sarannya, bagi yang punya kontak  wa aku, chat aja. 

Comments

Popular posts from this blog

REVIEW FILM: KAFIR-BERSEKUTU DENGAN SETAN (2018)

Prestasi!