Gaduh Puisi Gus Mus Dibacakan Pak Ganjar: Islam-mu Bagaimana ?


Selamat malam, salam damai untuk jiwa-jiwa suci, amin. Jiwa yang suci bisa dimulai dengan fikiran yang positif. Terhindar dari fikiran sempit dan fanatic berlebih. Semoga kita selalu dalam fikiran yang baik, yaaa.



Puisi kritik berjudul “Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana” karya Kyai Mustofa Bisri atau Gus Mus tiba-tiba menjadi buah bibir dan viral di jagat maya. Soalnya, puisi tersebut dibacain oleh Bapak Ganjar Pranowo di depan publik secara sangat ekspresif.




Sebenarnya puisi itu udah lama populer, selain isi-nya yang bagus, filosofinya juga mencakup semua aspek. Apalagi yang membuatnya adalah Gus Mus, ulama paling tawadhu, paling dikagumi masyarakat Indonesia dan adem banget liat beliau itu. 

Hanya saja mungkin karena puisi itu dibacakan oleh seorang calon Gubernur Jawa Tengah kali ya, Bapak Ganjar Pranowo dan dalam suasana pilkada, ya situasinya jadi makin sensitif.

Buat dulur-dulur yang belum tau puisinya, nih, aku kasih secara lengkap ya?

“Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana”
Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir

Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana
-1987-

Salah satu untaian kata di dalam puisi yang menjadi kontroversi itu, yang ini lho lur,

“Kau ini bagaimana
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat”

Nah, sampe-sampe salah satu netizen yang sekelas presenter TV One tega menghina ulama, Gus Mus, buat nyampein rasa keselnya, seperti ini lur,


Gara-gara komentar pedas ini, warga Indonesia sempat gaduh. Karya seorang Kyai masyur, Gus Mus, sangatlah naif dan hina jika disebut dungu. Sebab, puisi adalah karya sastra.

Tapi, lur, kalau dilihat-lihat bangsa kita ini melalui komentar-komentarnya, secara umum, ada dua tipe netizen menanggapi kasus ini.

Pihak pertama, dia bakal nganggep si presenter bodoh atas cuitannya yang berkeliaran di sosmed. Ada yang ngajak perang, bahkan ada yang menyatakan bahwa hal ini harus dilaporkan. Karena dianggap membuat kesalahan fatal dan besar. Sekalipun sudah minta maaf, lho.

Nah, netizen tipe lainnya, ikut komen menjelekkan adzan. Menjelekkan Islam. Menjelekkan toa. Dan menyangkut menjelekkan Pak Ganjar. Melihat secara tekstual.

Gaduh.

By the why, ada yang gatel ngga kenapa akhir-akhir ini banyak syair dianggap menghina adzan? Kemarin bu Soekma, sekarang baru lagi.

Nah, mengingatkan aja, sadar ngga sih, ini tahun politik, apa-apa pasti pengalihan isu?

Sekali lagi, karena puisi itu dibacakan oleh seorang calon Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo, makanya jadi sensitif. Faktanya, puisi berjudul “Kau ini Bagaimana atau Aku Atau Aku Harus Bagaimana” itu pernah dibawakan oleh H. Abdul Kadir Makarim (Ketua MUI NTT), Marwan Jakfar (Ketua Fraksi PKB) baik-baik aja koq. Monggo bisa dicek, biar valid, hehe



Tahun politik, orang-orang mudah terprovokasi dan intervensi. Banyak pihak melakukan suatu cara untuk meraih kepentingan. Bisa menjatuhkan lawan politik. Salah satunya, kasus pak Ganjar kali ini. Ternyata kalau dilihat-lihat, orang-orang ini kurang tabayyun atau bagaimana, ‘mereka’ langsung memposting status di sosial media, yang isinya seperti ‘black campaign’. Mereka mainkan secara serentak di Twitter, Facebook dan Instagram.

Monggo dicek sendiri motif yang menyerang SARA,
     
 

 


Gimana ? Sadis. Masif. Terstruktur.

Bangsamu!

Anyway, kalau kasus ini terjadi di Jawa Tengah, kayanya emang ngga bakal se-heboh di Jakarta ya. Soalnya, emang sih, Jateng itu adem ayem tentrem. Mereka anti-hoax banget. Buktinya, pada hasil akhir, si presenter dan pak Ganjar langsung baikan koq, aku ambil data by twitter ya, 

 

                                       

  
Adem, ya, kasus hoax itu kaya remeh banget bagi warga Jateng. Mereka ngga gaduh, dan menghadapinya pakai kepala dingin. Tebak-tebakan aja, semogga ngga muncul siklus seperti ini,

X:  Udah salah bukannya minta maaf.
Y:  Iya, secara pribadi saya minta maaf yang sebesar-besarnya.
X: Minta maaf doang ? Ntar juga ngulangin lagi.
Temen X: laporin, masa dengan ngelakuin kesalahan terus minta maaf, 
Temen X: kayaknya ini emang taktik, kesalahan terus maaf. 
Temen X: Penjara-in, gampang banget ngomongnya.

Yang berfikiran kaya gitu, (pihak X) pas sekolah berangkat sekolah cuman sampe pamit izin ortu. Ngga sampe masuk kelas. Gaduh, gaduh, gaduh. Jadinya, baper berlarut-larut. Hehe

Eits, coba sekarang kita bareng-bareng mikir terbuka nanggepin isu-isu kaya gini biar ngga keterusan Indonesia gaduh. Puyeng liatnya.

Gini lur, kita ketahui bersama bahwa puisi itu seni. Ngga semua seni bisa ditangkep pake nalar. Mungkin yang paling bisa kita lakuin, apresiasi. Sebenarnya semua orang bisa aja memuji puisi ini bagus, tapi beberapa memilih untuk tidak.

Kalau orang-orang melihat bahwa puisi bu Soekma dan Gus Mus menghina adzan, jujur, aku akan menyingkir ke tempat yang lebih sejuk dan melihat dari sudut pandang berbeda, bahwa itu adalah karya. Karya intelektual dan pengalaman. Pesan moralnya dapet. Logikanya masuk. Tegas. Transparan.

Lagi-lagi yang dibahas adzan. Dalam puisi itu, mungkin yang dikritik Gus Mus bisa jadi adalah pengeras suara-nya, bukan adzan-nya. Karena pengeras suara itu bukan bagian dari Islam tapi produk kafeer. Atau bisa jadi, puisi tersebut menyinggung pihak-pihak yang teriak Allah dengan pengeras suara seolah-olah seperti orang beriman, tapi hatinya jauh dengan Allah. Bukankah iman dibuktikan dengan tingkah laku, perbuatan dalam bersosial bukan dengan pengeras suara? Bukan konteks adzan tapi kedekatan hati denganNya.

Sekali lagi, puisi itu seni. Ngga bisa ditangkep pake nalar. Atau cukup pake tekstual. Beda tafsir antara ahli sastra, masyarakat awam, ahli linguistik dan segala paradigma lainnya. So, kita cukup apresiasi. Banyak-banyak introspeksi diri. Coba tabayyun. Bukan langsung manut-manut. Kita punya akal untuk menganalisis itu semua, lur.  

Kalo ngomongin kebutuhan hidup, kita semua pasti memiliki tujuan fokus masing-masing. Ada yang tingkatannya susah, sedang-sedang, atau biasa aja. Dan  setiap orang terutama kalian pembaca blog ku pasti punya kesibukan pribadi itu. Seperti misalnya sibuk nugas, dagang bisnis, fokus belajar biar dapet nilai, sibuk rapat organsasi di kampus, kerja buruh pabrik, sibuk skripsi, sibuk mikirin diri sendiri dan lain sejenisnya. Aku sendiri juga lagi sibuk mikirin masa depan sih, nyari-nyari passion buat diwujudin biar sukses.

Tapi, ngga ada salahnya kita punya peran atau ambil bagian ketika menanggapi isu-isu publik tentang agama kita di Indonesia ini. Apalagi kita yang katanya generasi millenial. Iya, gampangnya, mulai dari diri sendiri. Ayo dah kita mulai tabayyun kalau ada kegaduhan dan ngga mudah tergerus. Paling ngga kita ngga mempekeruh suasana.

Mari bareng-bareng belajar bijak, belajar berfikir terbuka, itu pun kalau boleh. Engga-engga, ini serius, kita semua setara, ngga ada yang lebih intelek atau bodoh, di blog ini setara. Pyur, berbagi fikiran, cerita, dan menghasilkan ide bukan duplikat. Oke ?






Bagi dulur-dulur yang udah baca, komen aja utarain pendapatmu tentang kasus ini, ngga usah malu-malu. Mari berinteraksi.




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

REVIEW FILM: KAFIR-BERSEKUTU DENGAN SETAN (2018)

Prestasi!