Catatan Pahit: Jatuh di antara Bintang-Bintang
“...kegagalan adalah awal dari kesuksesan”
Kalimat yang latah muncul ketika kalah, gagal, atau tidak berhasil dalam mencapai impian. Iya, kata-kata itu ngga asing di telinga kita dari dulu, bahwa “...kegagalan adalah awal dari kesuksesan”
Salam sejahtera bagi kita
semua, salam hangat untuk jiwa-jiwa yang kian hari kian membaik, amin.
Kita semua pasti pernah gagal
dalam mencapai mimpi, yang mana mimpi itu sudah di depan mata, kita hanya
tinggal selangkah, namun tiba-tiba ada kendala yang tidak kita pahami, kita
terpaksa jatuh.
Kesal. Perasaan itu refleks
ada pada rongga dada kita semua. Padahal kita sudah sangat senangnya, merasa
telah mencapai mimpi yang indah itu. Tinggal selangkah. Tapi, nyatanya, sebesar
apapun semangat dan keyakinan yang kita bungkus bersama rencana tersebut, tetap
saja gagal. Itu terjadi dan pasti akan terjadi pada kehidupan kita.
Contoh kecil, kita ikut
pendaftaran beasiswa, sudah menyertakan berkas-berkas lengkap, berdoa juga tak
lupa, dukungan dari orang tua sudah diraih, namun begitu tiba waktu pengumuman,
nama kita tidak tercantum daftar peserta lolos.
Oke, real. Mungkin masih ada rezeki yang lebih indah dari itu. Contoh kecil
lagi yang dialami teman ku Zulfa atau akrab ku panggil Des (@zulfaasyarif), dia dinyatakan
masuk calon pemenang quis yang lolos ke Thailand, sudah sangat senang. Tiba-tiba
dia diminta untuk menyertakan persyaratan yang sangat riweuh, namun karena sedikit kendala tidak bisa terlaksana, akhirnya
dia ngga lolos berangkat ke Thailand.
Atau temanku yang lain
lagi, seperti Indayu Sri Mulyani (@indayu25) dan kedua partnernya Ade Sholahudin (@ade_deeee), Mhd Aulia
Rohim Lubis (@mhdrohem) yang lomba debat di Bandung (dari UIN Malang), mereka berani
mencoba untuk ikut berkompetisi, berlatih siang malam, izin perkuliahan demi
ikut kompetisi debat. Tiga kali tanding, masuk tujuh besar, tinggal seleksi
penyisihan masuk babak seperempat final. Semakin senang karena tinggal
selangkah lagi. Doa dan dukungan dari UIN sudah pasti terkantongi. Lalu tiba-tiba
Tuhan berkuasa lain, mereka tersandung di peringkat nilai ke-7, kalah vis-a-vis
melawan Universitas sebelah.
Masih banyak lagi
contoh-contoh lain yang bisa kita jadikan pandangan baik dan buruknya. Dan ngga
ku sebutin satu persatu, ya. Tapi, kegagalan siapapun itu pasti akan mengalaminya. Kita tidak
bisa selamat dari ‘gagal’.
Ketika kita sudah
berharap, berusaha, terus gagal. Dan kita hanya bilang, “oh yaudah. Baru gitu
doang koq. Kesempatan masih lanjut lagi.” Ah, rasanya gagal itu sudah menjadi
santapan setiap hari. Hehe
Gagal? Sama halnya
seperti aku. Aku juga gagal berkali-kali. Salah satunya, aku sedang ikut open recrutiment relawan di Indonesia
Timur. Relawan mengajar, bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, dan memberi
inspirasi ke pelajar Sekolah Dasar setempat. Lokasi eksekusinya pas banget,
sesuai dengan impian, di Papua
tepatnya Jayapura, tepatnya lagi Merauke.
Syarat-syaratnya ya mengisi
formulir pendaftaran, daftar pertanyaannya juga macem-macem, dari yang
dasar-tengah-menjurus dan komitmen. Abis itu bikin esai atau gebrakan apa yang
bakal kita berikan saat jadi relawan nanti.
Akhirnya, lolos. Dan dapet
email bahwa aku mesti berangkat ke Merauke awal Mei 2018. Yang berangkat
sekitar 25 orang di seluruh Indonesia. Berangkat ke Merauke. Siapa yang ngga
seneng? Impian lama yang terpendem, akhirnya ada di depan mata.
Tapi, aku segera sadar
diri, siapa aku, karena tidak punya uang untuk financial transportation. Iya, betul, pihak panitia lokal tidak membiayai
pemberangkatan bagi relawan yang berangkat ke Merauke. Mereka membiayai penginapan
dan kebutuhan mendesak lain ketika kita sudah di Merauke. Itupun dengan catatan,
tidak di luar kegiatan Kelas Inspirasi Merauke. Dan aku sangat memakluminya. Untung-untungan
mereka masih memfasilitasi penginapan. Tapi begini ya, ketika mimpi ku tidak
tercapai untuk jadi salah satu relawan, aku sangat legowo karena aku sadar siapa diriku.
Kita semua tau bahwa
jalan menuju sukses adalah berusaha keras bukan diam saja. Iya, sama halnya
seperti yang dialami oleh temen-teman di atas termasuk yang aku alami, ada beberapa
tahap yang memang mau tidak mau harus kita terima resikonya. Termasuk gagal.
Datang ke wali dosen,
konsultasi perihal perizinan dan dana ke Merauke. Beliau ramah dan sangat
mendukung. Lalu beliau menyarankan untuk menemui Dekan Kemahasiswaan Fakultas
terkait financial transport. Segera aku
cetak bukti surat kelolosanku dan menemui beliau. Lalu, dengan nada halusnya, pihak
Kemahasiswaan menjawab,
“maaf, Mbak, kami ngga ada anggaran
untuk memberangkatan mahasiswa menjadi relawan”
Kita tidak bisa menuntut lebih pada kampus, karna pada saat
ini, mereka punya hak untuk tidak mengeluarkan dana bagi mahasiswanya. Mahasiswa
juga harus melewati seleksi ketat, yang bener-bener ada profit bagi kampus, kampus tidak asal gelontorkan dana, meski hanya
tiga juta rupiah dan itupun berdasarkan misi
kemanusiaan. Itu real. Dan kita mesti
maklumi.
Aku tersingkir. Tapi aku
selalu punya cara untuk menyembuhkan luka diri. Aku berhak merasakan penolakan,
setiap manusia harus merasakannya. Jangan khawatir, aku tahu betul kapan harus
bangkit dan kapan harus berkata, “baru
gitu doang, Yan. Kesempatan masih banyak.”
Hidup adalah serangkaian pilihan. Contoh yang sekarang terjadi, kamu membaca artikel blog ini, dan itu termasuk juga pilihan, padahal ada kegiatan lain yang bisa kamu pilih dan kerjakan seperti bales whatsApp, scroll instagram, atau mungkin ngopi serta bermain mobile legend. Dan kamu memilih baca blog ini. Itu adalah pilihan.
Lalu, aku bisa memilih
untuk menunggu uang turun dari langit dengan diam pasrah. Pilihan yang sangat
melelahkan. Tapi, aku percaya kunci dari kesuksesan adalah berusaha,
bersemangat, berdoa, yakin. Entah, dengan yakinnya diri, aku mencoba jalan
lagi.
Bertanya kepada temanku, Jeje (akun instagramnya @fauziahpalaloi), agar ayahnya mau memberi ide apa yang bisa aku lakukan dalam mencari dana misi
kemanusiaan, dan jawabannya,
“Yan, barusan telfon ke bapak, katanya beliau
juga ngga tau solusinya.”
Keegoisan bukanlah pendewasaan yang benar. Dan
akan ku ingat pelajaran ini. Bahwa berjuang masih bisa. Lalu aku meminta bantuan ke Aiesec Brawijaya. Namun,
lagi-lagi aku menerima penolakan itu. Bukannya berhasil membawa uang sebagai financial transport, tapi justru mendapat
oleh-oleh bahwa,
“maaf, mbak, kami sendiri kalau ada kegiatan relawan
pakai uang pribadi.”
Baik untuk dikenang, juga
pemicu aku agar tidak berhenti berjuang. Berjuang menjadi orang, menjadi
manusia yang lebih bijaksana memaknai apa-apa yang terjadi dalam hidup. Memang betul,
pengalaman adalah guru terbaik. Mengajarkan bahwa rencana mu yang berniat
tulus, pasti akan patah hati juga. Itu real.
Usahamu dalam mencoba, jika gagal, ambil baiknya, buang buruknya.
Dosa sekali rasanya, jika kegagalan sebagai trauma untuk mencoba lagi. Tidak, tidak boleh menyerah. Karena sekali lagi, kita mesti berkata kepada masalah-masalah itu, “baru gitu doang koq.” Memperkecil masalah, bukan baper berlarut-larut.
Nyata, sugesti seperti
itu akan menyadarkan kita, bahwa pengharapan kepada yang fana atau yang berlebihan
itu menyakitkan. Kita cukup melakukan sewajarnya saja, agar seimbang memaknai
segala penolakan. Kita semua tau, bahwa ditolak itu sakit. Ditolak artinya kita
gagal mendapatkan apa yang kita mau. Kalau gagal, kita berarti sudah mencoba. Jadi,
pengalaman yang bisa kita ambil, kita mesti banyak belajar dan mencoba.
Sama seperti ketika kita takut
stand up comedy, membuat jokes receh dan garing akhirnya kita ngga berani mencoba
nge-jokes. Coba aja nge-jokes, karena kita akan tau gimana rasanya nge-jokes
kemudian memperbaiki lagi bagian-bagian mana yang receh dan ganti yang baru. Akhirnya
kita bisa keluar dari kubangan kesalahan itu. Gitu terus lama-lama akan mahir
dalam stand up comedy.
Kalau kata Fico Fahriza (Comic
Stand Up Comedy Indonesia), “sebelum rame, sebelum banyak yang nyari momentum, nge-tweet
bijak-bijak, buat yang ngga lolos audisi, gua ingetin sekali lagi, ELU GAK
LOLOS AUDISI ITU ARTINYA ELU GAK LOLOS AUDISI. Bukan, bukan arti yang lain, itu
mah gak real, kalimat pengibur doang. Ga lolos! Udah. Itu real.”
Aku bukan bermaksud setuju, tapi aku sepakat kata-kata beliau (cek aja instagram-nya @ficofachriza). Kalem, aku sepakat, ini ngga nyinyirin,
cuman aku orangnya jujur. Jalan untuk berprestasi masing-masing orang itu beda. Ngga semua prestasi harus lewat tentang
IPK tertinggi, menjadi ketua organisasi, exchange
kemana-mana, mendapat penghargaan ini itu, lolos seleksi beasiswa, quiz
give away, dan kompetisi. Bisa jadi emang harusnya ngga usah.
Berusaha dengan segala hobimu kemudian menghasilkan yang positif itu sudah sumbangsih yang bagus banget buat sekitar. Serius. Yakin deh, tiap dari kita memiliki passion dan tujuan masing-masing. Cuman kalau emang idealis mempertahankan banget, pengen ngga gagal terus, ya belajar lah, tapi yang ikhlas.
Berusaha dengan segala hobimu kemudian menghasilkan yang positif itu sudah sumbangsih yang bagus banget buat sekitar. Serius. Yakin deh, tiap dari kita memiliki passion dan tujuan masing-masing. Cuman kalau emang idealis mempertahankan banget, pengen ngga gagal terus, ya belajar lah, tapi yang ikhlas.
Ini aku kayak
songong-songong gimana gitu, gara-gara di internet aja, menyesuaikan keadaan,
kalau engga, ya aku ngomognya biasa aja, serius tapi santai gitu. Tapi beneran,
kalau emang ngga sesuai dengan passion, terkesan maksa, berasa bukan diri
sendiri, lepas aja udah, nyakitin.
Banyakin belajar, ambil
baiknya, buang buruknya. Sering-sering bersyukur, kurangin ngeluh, jangan gerutum, pusing
dengernya.
Udah ya, udah sotoy
banget ini, malu aku. Hehehe
Bye, semoga bermanfaat.
Kalau ada yang punya cerita tentang kegagalan yang paling berkesan banget, gagal snmptn misalnya, hehe boleh lah berbagi biar sama-sama belajar, karena gini lho, kalo sabda mas Sabrang Mowo Damar Panuluh, putra Cak Nun, lebih baik melakukan sesuatu yang buruk daripada tidak berbuat sama sekali, kalau sudah berbuat, pasti berguna. Minimal berguna untuk menjadi contoh yang buruk. Yuk yang mau berbagi, berbeda pendapat, atau mau ngasi kritik saran ditunggu banget, langsung aja klik kolom komentar. Salam damai. Terimakasih ya sudah mampir membaca.
Tak apa gagal, its okay kita sudah berusaha yang terbaik,
ReplyDeleteMasih ada hal indah yg sedang menanti kita...
Mungkin yg sedang menunggu kita itu hal yang beribu kali lebih indah dan luar biasa.
Kuudah banyak ngerasain yg namanya gagal *ceileh curhat,
Kusalah satu dari fans blogmu kawan, hihi...
Eh btw usaha kita yg daftar beasiswa BI ngga diceritain yak....wkwk
Makasi yo, semoga bermanfaat. Ku juga mau dong baca blog-mu.
Deletebtw, ini udah ku masukin ke
"Contoh kecil, kita ikut pendaftaran beasiswa, sudah menyertakan berkas-berkas lengkap, berdoa juga tak lupa, dukungan dari orang tua sudah diraih, namun begitu tiba waktu pengumuman, nama kita tidak tercantum daftar peserta lolos."