Seorang Wanita yang Berkelas
"Jadilah wanita berkelas. Yang tidak harus penuh drama di dunia maya, tidak pamer ini itu, pun tidak mengumumkan banyak hal sepele. Dia berkelas!"
Banyak orang beranggapan wanita berkelas, dia yang berasal dari golongan tertentu atau golongan atas. Walau sebenarnya untuk menjadi perempuan berkelas dibentuk melalui impian, semangat dan usaha yang tinggi namun dengan sikap yang sederhana. Orang akan menganggap sebagai wanita berkelas dan bukan kampungan.
Tahukah kalian apa yang kader wanita
butuhkan dalam menjalani kehidupan bersosial ? Penghargaan ? Rayuan manis ?
Menurut saya bukan itu tujuan utama seorang wanita di dalam suatu kehidupan
sosial. Bukan, yang mereka butuhkan adalah mental. Mental bisa berarti cara
berfikir, berperasaan, dan juga keadaan jiwa. Mereka butuh mental di dalam kegiatan berorganisasi.
Mental yang siap terpelanting, terpental oleh massa, terlempar kembali, dan
berbalik arah.
Mengapa begitu penting mental?
Mental dimulai dengan pola pikir. Apabila pola pikir
berputar-putar hebat dalam otak, akal akan mudah menyerap konsep dan strategi.
Pola pikir yang aktif, tidak pasif, selalu bekerja dengan memikirkan sesuatu di
sekitarnya, membuat otak akan mudah terangsang menerima informasi-informasi
dunia. Mudah mencerna dengan pengetahuan-pengetahuan baru. Ia tidak bisa
didoktrin, karena dia punya pegangan dasar yang kuat. Akal adalah alat utama
dalam menjalani kehidupan.
Seorang wanita memiliki kelebihan dalam menggunakan
perasaannya, beda dengan lelaki yang lebih banyak menggunakan akal. Mereka
beres dalam segala hal, membuat permasalahan terselesaikan dengan cepat, kelar,
dan tidak lagi menjadi bahasan. Beda dengan wanita, yang mengaduk-aduk
permasalahan dengan perasaan kemudian berubah bentuk menjadi curhat, lalu baru
selesai permasalahan.
Bukan, bukan ini bukan bermaksud negatif dengan fenomena
zaman pola pikir laki-laki yang lebih memakai akal sedangkan wanita pakai
perasaan. Apalagi berdasarkan riset tes IQ dari berbagai belahan dunia, wanita
memiliki IQ yang lebih tinggi daripada pria. Penelitian itu dilakukan oleh James
Flynn yang meneliti IQ berbagai orang di dunia mulai dari Amerika, Eropa,
Kanada, New Zealand, Argentina dan Estonia. Dari risetnya diketahui IQ wanita
berada di atas rata-rata.
Kita hanya perlu sedikit saja menggunakan akal kita
menghadapi persoalan-persoalan mendadak yang akan tiba. Kajian-kajian gender
digelar tak kunjung habis demi mewujudkan setara gender dari tahun ke tahun.
Feminisme, misalnya yang selalu rutin kita dengar jika sudah menyinggung studi
gender. Apalagi dalam dunia organisasi mahasiswa.
Namun, jika boleh
berpendapat, feminisme belum berhasil jika dalam kepanitiaan yang bertugas
sebagai sekretaris pelaksana selalu wanita dan menjadi koordinator akomodasi
adalah selalu lelaki. Hal itu tak lepas dengan alasn, ya memang lelaki lebih kuat
dibanding wanita dalam angkat-angkat barang, kemudian alasan selanjutnya ya
memang wanita lebih tlaten dalam urusan administrasi, lelaki tidak srantan. Di
situlah peran penting kajian feminisme.
Untuk wanita, kaum hawa.
Mari belajar bersama lebih banyak agar menjadi pribadi yang
progressif. Mulai dari mindset yang optimis sehingga membangun mental yang
lebih baik. Tidak ada salahnya kita mengeksplore passion masing-masing. Contoh
hal-hal yang bisa kita lakukan untuk personal: belajar hal baru, kita bisa
belajar bahasa asing, skill komputer, atau kita bisa ikut kelas/workshop.
Ingat, bukan cuma dapat sertifikat, namun hal apa yang bisa kau dapat dari
workshop, kursus, kajian itu.
Paling tidak, kita bisa berbahasa Inggris. Bukan hanya
karena internasional yang nanti akan banyak dipakai saat komunikasi profesional
termasuk bussines deals, tapi kita juga perlu banyak baca buku, artikel, jurnal
yang belum ada bahasa Indonesia-nya. Penting kita baca, untuk menambah
pengetahuan dan wawasan.
Dan untuk kegiatan non-akademis, banyak-banyaklah ikut
volunteership, organisasi, social work, karena kegiatan-kegiatan ini melatih
kita dalam hal komunikasi, leadership, teamwork, problem-solving, dan memiliki
relasi luas untuk menjalin silaturahmi.
Lewat kegiatan diskusi atau sejenis itu, kitajuga akan
terbiasa diskusi dan bertukar pikiran dengan orang-orang yang berbeda dengan
kita, belajar kerja bersama, sekaligus belajar mengungkapkan gagasan, melatih
percaya diri juga, dengan begitu kita akan bergeser secara pelan-pelan memiliki
mental yang progresif. Bukan mental dogmatis.
Laki-laki mencari pasangan hidup.
Butuhnya lelaki mencari istri itu untuk menemani hidupnya. Sanggup bersama-sama meskipun susah dan senang. Jangan mentang-mentang merasa parasnya ayu, akademiknya tinggi, gelar strata berlipat-lipat, gaji lebih tinggi daripada suami, itu tidak baik, girl.
Mengertilah.
Kalau sudah menjadi makmum, berarti kita (kaum hawa) adalah 'makmum'. Kita harus bisa mengingatkan ketika imam belok ke jalan yang salah. Kita harus bisa jadi panutan yang baik untuk anak-anak kelak. Bukan kekayaanmu, parasmu, bukan pula pangkat gelarmu. Yang dibutuhkan kita bisa "mengayomi" keluarga,
Catatan bersama.
Mari mengenali diri sendiri dengan sering-sering bertanya
pada diri sendiri, misalnya; apa yang paling ku suka dariku? Apa yang kurasa
perlu ku perbaiki? Hal apa yang suka ku lakukan tiap hari tanpa disuruh?
Masalah terberat apa yang pernah ku alami dan bagaimana aku menyelesaiaknnya?
Apa yang pernah diajarkan orang lain ke aku yang paling ku ingat?
Jadilah wanita berkelas. Menjalankan ide-ide sederhana
dengan komitmen yang besar. Dan yang tidak harus penuh drama di dunia maya,
tidak pamer ini itu, pun tidak mengumumkan banyak hal sepele. Kita berkelas!
Tulisannya makin berkelas atuh neng
ReplyDeletewkwk iyaaa. Masih belajar nih, wak.
Delete